Wednesday, April 20, 2016



Tak terasa, sudah H-18 saya akan melepas masa lajang. Eh, belum pada tau ya, 8 Mei nanti insyaAllah saya akan melaksanakan akad nikah di Kuningan. Tepatnya Ds. Sindangkempeng Kec. Pancalang Kab. Kuningan. You have no idea where it is ? Just open google map. ^_^

Wah harusnya jangan dikasih tau dulu. Sebar undangannya aja baru akan dimulai 1 Mei. Tapi yaudah deh gapapa, mumpung lagi ada ‘kekuatan’ untuk meng-olahraga-kan jemari di atas keyboard. Soalnya udah lama ide menguap begitu saja tanpa diembunkan di blog.

Mungkin banyak yang kaget atau berpikir bahwa saya belum pantas untuk memimpin sebuah rumah tangga yang kata orang lebih banyak ombaknya daripada saat menjadi lajang. Ya biarlah orang berkata. Mungkin mereka memang benar. Bisa jadi juga mereka tidak sepenuhnya benar. Apapun yang kita lakukan tak akan pernah bisa memuaskan semua orang,(iki ngomongi opo).

After all, finally, I’m getting married.
Jika merunut peristiwa-peristiwa yang sudah terjadi beberapa tahun ke belakang, semua bermula (biar jadi cerita) ketika saya masih bekerja di sebuah Server pulsa di Sindanglaut. Suatu ketika saya mendapatkan informasi bahwa teteh, kawan, partner kerja saat di Sang Bintang School Cirebon dan Pusat, yaitu teh Sri Apriyanti,S.PdI (Teh Nci) yang melankolis koleris yang katanya sangat cocok menjadi supersub di pucuk pimpinan, akan menikah. Tanggalnya lupa, mungkin sekitar Maret atau April 2015. Saya pun ber azzam untuk menghadiri-minimal-resepsinya.

Kebetulan resepsinya di Indramayu. Temanku, Ex, udah ngajakin untuk kondangan bareng. Namun kendalanya adalah saya tidak bisa mendapatkan libur kerja. Kebetulan server dan konter tempat saya kerja habis kebanjiran. Hal itu memaksa para (2 orang) pegawainya untuk lembur tak libur. Tapi saya tak bisa kalau ga datang kondangan ke Teh Nci.

Pagi di hari resepsi teh Nci, saya sms bos untuk izin tak masuk kerja untuk menghadiri resepsi teh Nci. Tapi bos tak memberi izin. Saya pun membalas sms nya, “yaudah klo ga bisa izin saya keluar”. Akhirnya saya resmi mundur dari pekerjaan yang tiap harinya mantengin komputer di bawah naungan wifi. Demi bisa menghadiri walimah teteh ketemu gede yang suaaangaaaat buaaaaiiikkk.

Selanjutnya, I have no idea akan kerja dimana lagi. Lantas, saya menganggur sekitar 3 bulan. Ga sepenuhnya nganggur sih. Tiap hari kerjaannya pasti mainin hape sambil nyari kerjaan via HP Evercoss A7S, hp bukan second pertama yang saya beli dengan hasil keringat sendiri. Tiap senin, saya keliling Cirebon menyebar undangan, eh lamaran kerja.

Sambil keliling sambil curi2 memanggil seonggok kenangan di beberapa tempat di kota Cirebon.  Klo ada yang bisa via email, saya kirim lamaran kerja via email. Entah sudah abis berapa lamaran, udah abis berapa ratus ribu untuk mendapatkan pencaharian baru. Sampai-sampai saya ngikutin negara Indonesia untuk mendapatkan pinjaman luar negeri. Lebih tepatnya, pinjem uang ke teman yang lagi kerja di Malaysia.

Akhirnya setelah melalui beberapa peristiwa, pengalaman dan perjalanan hidup yang begitu kompleks (sampai pernah tiap malem tidur di masjid ampe dikira tunawisma), akhirnya (dengan tidak menceritakan kisah-kisah saat tak berpenghasilan selama 3 bulan karena akan panjang) saya pun mendapatkan pekerjaan baru.

Pekerjaan baru, mungkin menjadi salah satu jawaban dari doa dan cita2 saya selama ini, pengen mesantren. Setelah melalui beberapa tahap dan bolak-balik cirebon-kuningan ngumpet dari polisi karena pake motor yang ‘ga hidup’, akhirnya saya resmi menjadi pegawai di pesantren modern.

Singkat cerita, suatu hari ada rapat kaur (kepala urusan). Kebetulan kaur saya hari itu menunjuk saya, staffnya, untuk menggantikannya hadir di rapat tersebut. Saya yang tak terbiasa datang terlambat, datang tepat waktu di tempat rapat yang ditentukan. Masih sepi. Selang beberapa menit kemudian, sekretaris unit yang mengadakan rapat datang.

Ngobrol dah tuh kita berdua. Ngobrol ngobrol, akhirnya ditawarin dah untuk menjemput jodoh via taaruf, tuker2an biodata gitu via perantara. Saya gak langsung yes kaya mas anang. Setelah beberapa pertemuan dengan beliau dan hantaman bujukan masukan dan doktrin terus menderu. Akhirnya saya sholat istikhoroh, subuhnya langsung kirim biodata via WA.

Beberapa hari kemudian, saya dapat kiriman biodata akhwatnya. Tinggalnya tetangga desa dengan pesantren. Ga cantik, tapi ga jelek juga. Klo saya yes. Karena sudah menyerahkan sepenuhnya kepada Yang Maha Kuasa. Dan Alhamdulillah akhwatnya berkata tidak. Yang ngirim biodata mencoba menghibur. Padahal saya biasa aja sih, ga ada kecewa sama sekali. Karena dari awal juga udah ada suatu hal yang bikin jadi agak nggak sreg gitu walau udah istikhoroh.

Biodata akhwat kedua datang beberapa hari kemudian. Seperti yang pertama, saya pun langsung yes. Kali ini lebih mantap dari yang pertama. Karena dia mengajar di RA dan TPA. Dan Alhamdulillah akhwatnya yes juga.

Tak menunggu waktu lama, tetap dengan petunjuk dan bantuan orang-orang yang telah ‘menjodohkan’, saya langsung mengajak orang tua untuk melamarnya. Saya pun akhirnya untuk pertama kalinya-dan sampe sekarang baru kali itu aja –melihat calon istri saya secara langsung. Dia datang di hadapan saya, nganterin minum, ga ngobrol, udah gitu doang udah cukup.

31 Desember 2015, penghujung tahun itu saya resmi melamarnya. Sampai situ, perjalanan masih panjang. Nentuin tanggal juga belum, baru nentuin tanggal beberapa bulan kemudian. So many problem, begitu banyak kendala, kisah, rintangan yang sampai sekarang masih mengiringi saya untuk sampai ke pelaminan nanti.

Mungkin tidak semestinya saya menceritakan ini sekarang, karena tanggal sakralnya aja masih jauh. Karena kita tak pernah tau apa yang akan terjadi di hari esok. Tomorrow is always be mystery. Apapun bisa terjadi jika Allah sudah berkehendak.

Masih banyak yang ingin diceritakan, semua kisah dan problematika yang setia menemani. Tapi udahlah. Mentemen yang bisa datang, datang ya. Maaf ga bisa pake undangan resmi. Maaf juga pada tetangga dan teman dekat rumah, saya mungkin ga bisa menyediakan tumpangan untuk menyaksikan peristiwa bersejarah ini. Minta doanya aja ya.


Apapun bisa terjadi jika Allah sudah berkehendak. Mudahkan ,Ya Allah...

Thursday, March 3, 2016

28 februari 2016. Di sebuah bangku panjang di depan sebuah bengkel pinggir jalan perjuangan saya duduk. Belasan atau puluhan (kagak ngitung sih) mobil dan motor hilir mudik di jalan tersebut. Beberapa remaja lewat dihadapan saya. Saya tebak sebagian dari mereka adalah mahasiswa, karena d sepanjang jalan yang saya ‘hinggapi’ ini terdapat setidaknya 3 – 5 perguruan tinggi. Jalannya para mahasiswa.

So, what was I doing there?

Jadi begini ceritanya..
Nah begitu ceritanya..
Bagus kan ceritanya..
Belum juga diceritain ceritanya..
Kan lagi nglawak ceritanya..
Tapi ga lucu ceritanya..
Jadi yaudah ceritanya..
=========

Forum Komunitas Orang Cirebon, atau biasa disingkat dan disebut FORKOCI, adalah suatu grup komunitas di facebook (nama grupnya sih KOCI) yang baru beberapa hari saya bergabung kedalamnya. Sebenarnya dulu juga udah pernah gabung, tapi karena dulu saya sempat puasa pesbukan jadi baru gabung lagi deh.

Suatu hari, pas lagi menggalakkan waktu santai dengan mlototin timeline grup, nemu dah tuh, FORKOCI ngadain acara kumpul, sambil latihan futsal pula. Ngiler dah saya, excited banget pengen ikutan. Kegalauan saya untuk memilih karawang atau cianjur sebagai destinasi ‘ngebolang’ otomatis hilang. Diputuskan, ngisi waktu kosong ikut acara kumpul FORKOCI.

Pas hari H, tiba-tiba habis subuh jadi bimbang. Jadi kumpul sama KOCI atau nggak. Takutnya ntar cuma jadi kambing conge disana. Tapi akhirnya berangkat juga.
=========

Akhirnya sampai juga di jalan perjuangan, baru jam 8 kurang 15 menit (acara jam 8). Bimbang datang lagi. Di bangku panjang depan bengkel pinggir jalan itu saya mikir lagi. Ntar bisa ikut main futsal atau nggak. Jangan-jangan udah sampai lokasi malah jadi kaya anak ilang. Yang lain udah biasa main dan kumpul. Nah saya baru kali ini mau kumpul dan main futsal bareng.

Jarak tempat saya duduk dengan lapangan futsal yang ada di bawah gedung Radar Cirebon itu hanya terpisah oleh RS bersalin (lupa namanya) dan kantor RCTV. Saya buka lagi grup facebook KOCI. Ada postingan salah satu member katanya udah nunggu di tempat futsal dan mengajak anggota grup siapa saja untuk datang. Tekad saya langsung bulat untuk datang ke TKP.

Udah di tempat futsal, ternyata ga banyak yang datang, cuma belasan orang aja. Saya salamin semuanya lalu duduk di samping seseorang yang keliatannya seumuran (baca: muda). Basa-basi garing tanpa kenalan saya praktekan. Saya liat sekeliling semuanya pake sepatu futsal, dan berpakaian selayaknya orang yang mau main futsal. Nah saya, sepatu gak punya, pakaian bawa sih, tapi males gantinya. Jadi ya udah deh, nonton aja.

Pas pertandingan dimulai ternyata ada 1 orang yang gak pake sepatu dan pakaiannya kaya orang yang mau kongkow. Saya tanya ke orang yang baru datang dan ngajak saya ikutan main, boleh tah gak pake sepatu. Boleh.. Saya langsung buka jaket siap-siap tampil di panggung hijau kecil itu.
Gak nunggu waktu lama untuk main menggantikan orang yang ga pake sepatu juga. Inilah pengalaman pertama bermain futsal sama orang-orang yang belum saya kenal, ketemu juga baru, nama juga gatau. Dalam pertandingan yang super seru karena diwarnai tawa dan kegigihan itu, saya kira-kira mencetak 4 gol, 7 assist, dan 3 kali penyelamatan (kipernya ga betah di bawah mistar gawang terus). Permainan yang memuaskan.

Abis main, istirahat bentar sambil ngobrol-ngobrol ringan. Sebagian langsung pada pulang, sebagian lagi ikut lanjut ke acara berikutnya, yaitu kumpul di rumah salah satu anggota/pengurus (kagak tau dah) grup. Sebut saja dia Kang Nato. Katanya sih mau makan-makan. Dari 13 orang yang berangkat, Cuma saya yang ga bawa motor, jadi nebeng deh.
=========


Rumah Kang Nato ada di sebuah gang di jalan evakuasi (inget evakuasi jadi inget masa lalu dan BPJS, inget BPJS jadi inget..aahhh udah lah lupakan, eh ga deh, inget Kir). Tapi kalau diliat-liat, kaya bukan rumah. Lebih kaya markas. Tempat pembuatan sesuatu (entah apaan). Pas rombongan sampe sana, Kang Nato udah nungguin sendirian di-sebut saja-teras. Dia kagak ikut futsal.

Disitu semuanya ngobrol-ngobrol santai (saya aja yang cuma jadi pendengar setia). Ngomongin soal kejadian-kejadian yang ada di grup, masalah khodam keris musyrik kaya gitu, de el el. Ngomongin soal tempat mancing, rencana pembuatan kaos futsal yang keuntungannya untuk nyewa markas resmi, ngomongin soal plesiran, de el el. Tak lupa suguhannya yang nggak setengah-setengah. Air mineral se-dus dan 2 kantong besar ijoan. Saya yang jarang makan ijoan sampe bisa ngabisin 2 porsi.

Selang 2 jam kemudian datang lagi salah satu anggota grup KOCI, sebut saja dia Cuy. Katanya dia abis jadi juri (atau ikutan, kurang nyimak) lomba hot wheels gitu. Dan ternyata, dia itu pesulap dan bisa hipnotis juga. Makin seru aja kumpul-kumpulnya ada pesulap. Dia nunjukkin beberapa trik dan menjelaskan rahasianya, semua pada takjub seolah ngomong oooohhhh yang panjangnya 1000 kilometer.

Selain menjelaskan beberapa rahasia trik sulap, Cuy juga menjelaskan dasar-dasar ilmu hipnotis yang berkenaan dengan alam bawah sadar manusia. Dari menjelaskan bahwa otak manusia terbagi jadi 3 bagian, sampai langsung mempraktekan menghipnotis Kang Nato (sing jarene sih arepan mandeg ngroko). Cuy juga menjelaskan bagaimana bisa seseorang bisa terhipnotis, ciri-ciri orang yang mudah terhipnotis, sampai pengalaman pribadinya dalam dunia sulap dan hipnotis.

Di tengah penjelasan Cuy, datang seorang anggota lagi. Kali ini wanita (yang keliatannya masih) muda bersama anaknya menggunakan sepeda. Sebut saja dia Mumu. Jadi total ada 16 orang yang kumpul (klo ga salah itung), 14 cowok 2 cewek (satunya istri salah seorang pengurus grup).
=========

Dengan menjadi pendengar setia obrolan yang santai itu, saya mendapatkan beberapa nama lainnya. Owner/Founder grup, sebut saja dia Marko. Bayu (semua nama disini disamarkan), tukang poto-poto yang katanya suka upload foto di grup dengan keterangan yang mengundang perhatian. Sang kiper, Mamat yang bawa anak. Rajen yang bawa istri dan yang mosting jual keris. Yang lain ada yang lupa dan emang belum ketemu namanya (ga ada sesi kenalan soalnya).

Setelah terjadi perbincangan antara Mumu dan Cuy, kata Mumu, Cuy kayanya cocok klo ngobrol sama suaminya Mumu, jadi diputuskan ada acara dadakan, mengunjungi rumah Mumu yang ada di Kalitanjung (inget kalitanjung inget masa lalu, hadeuhh -__-).  Mamat ga ikut, pulang duluan sama anaknya yang ngantuk. Kang Nato juga ada urusan. Bayu dan satu orang lagi cuma ikut sampe depan rumah Mumu doang terus langsung pulang. Sisanya ngariung di rumah yang ketutupan 1 rumah pinggir jalan.
=========

Di rumah Mumu, ngobrol sama suaminya Mumu, tentang grup, sulap, dll. Cuy dan suaminya Mumu saling berbagi pengalaman. Salah satunya, kata suaminya Mumu pernah melihat peristiwa keris yang dikeluarkan dari sarungnya tiba-tiba semua lampu mati semua, pas dimasukkin lagi lampunya nyala lagi. Cuy memberikan hipotesanya yang katanya itu sebenarnya bukan mistis. Hanya pemikiran orang Indonesia yang terbiasa dengan kata mistis. Padahal itu menggunakan trik sulap yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Soal hipnotis juga, katanya dasar hipnotis itu sugesti (setidaknya itu yang saya tangkap dari penjelasan Cuy).

Pulangnya saya dapet tebengan dari orang tiga berlian (maap yah namanya lupa) sampe terminal.
Hari itu, Minggu yang asyik. Badan jadi seger abis main futsal, kenyang sama ijoan, juga kenyang sama ilmu soal sulap dan hipnotis. Thanks guys. Kesuwun sedulur KOCI.

Friday, February 12, 2016


Dear my friend,
You've known that i like her so bad, that i love her so much.
You've seen my note, full of her name in different shape and size
You've read the poetry i made about her
You've witnessed that i made a resolution to propose her in 'one day'. But, when 'the day' has come, i am failed to make it come true.

Hey, my friend
It seems impossible now
It looks i have to give up, i have to forget her.

But, you must've known
It isnt that easy
It spends so many tears
It tooks hard effort

I can only wish
That everything will be alright

Monday, November 9, 2015


I had said that you deserved to have so much more.

Now i say that you more to deserve to have so much more and more

I have a dense of tears to fall down when i realize that I really really don't deserve to be yours

I havent been crying for so long. My tears aren't this much before. If i am not the one for you..

Saturday, August 15, 2015

Allahu Akbar Allahu Akbar….

Adzan Shubuh berkumandang memanggilku yang masih setengah mengantuk untuk segera bangkit menuju masjid menunaikan kewajiban seorang muslim, Sholat Subuh 2 rokaat. Bergegas aku segera menuju masjid pesantren tempatku bekerja tanpa kembali mengambil air wudhu yang sudah kulakukan saat bangun tidur dini hari tadi. Tak lupa kupakai masker pemberian ibu sebelum ku berangkat mengais rejeki dan ilmu di pesantren besar yang terletak di daerah terpencil ini. Ku kencangkan resleting pada 2 jaket yang kukenakan.

Merapel wudhu, memakai masker, mengenakan 2 jaket, ditambah memakai kaos kaki disaat aktivitas selain sholat dan ke kamar mandi kini telah menjadi kebiasaanku sehari-hari. Oya, tak lupa meminum 2 kaplet besar berwarna merah tiap pagi kini menjadi sebuah keharusan yang tak boleh ditinggalkan.

Awalnya, kebiasaan-kebiasaan baru ini tak terlalu mengganggu, biasa saja, dibiarkan mengalir apa adanya. Tapi, setelah beberapa hari dijalankan sambil bekerja, keharusan-keharusan ini mulai membuatku merasa tak nyaman. Memakai masker sering membuatku tak nyaman dan sulit bernapas, kadang juga membuatku sedikit pusing yang mungkin efek dari obat juga. Selain membuat pusing, efek minum 2 kaplet jumbo itu membuatku kadang merasa mual, telat BAB, perasaan tak karuan, dll. Mengenakan baju doble ditambah 2 jaket juga kadang membuatku menjadi gerah dan merasa tak nyaman. Tapi jika kubuka jaketnya, dingin menusuk benar-benar menusuk, jadi serba salah. Kalau aku tak memakai kaos kaki, dingin juga menusuk dari telapak kaki. Jadi repot jika harus lepas pakai untuk ke kamar mandi. Jadi tak kuat berlama-lama di masjid karena tak mungkin memakai kaos kaki yang pasti kotor dipakai dimanapun.

Begitulah semua keluhanku atas apa yang kualami sekarang. Harus melakukan hal-hal yang membuatku tak nyaman bekerja dan melakukan aktivitas sehari-hari. Itu semua bermula dari kesalahan dan dosa yang kubuat saat berkelana di Negeri Andalas dan Silampari. Mungkin Tuhan berkehendak mengadzabku dengan memberiku penyakit di sepasang kantung napasku. Awalnya tak terlalu berasa, tapi setelah 2 tahun ditambah mengulang dosa di Kota Udang, penyakit ini semakin berkembang dan lebih berpengaruh pada keseharian. Penyakit ini mengharuskanku, mau tak mau, melakukan hal yang membuatku tak nyaman dan bisa dibilang kurang normal.

Di hasil rontgen pertama 2 tahun yang lalu, aku dinyatakan mengidap Pneumonic Infiltrat dextra karena ada bintik putih di bagian atas paru kanan. Namun hasil tes sputum berkata lain, tes dahak yang harus dikeluarkan pagi hari bangun tidur itu dinyatakan negatif.

Hasil rontgen 2 tahun kemudian, yaitu 2 minggu yang lalu sungguh menakjubkan. Bintik-bintik putih tanda penyakit itu sudah tersebar banyak di hampir seluruh paru kanan dan bagian atas paru kiri. Dokter menyatakan itu menandakan aku mengidap tuberculosis atau biasa disebut TB. Entah Pneumonia dan TB adalah hal yang sama atau bukan, yang pasti paru-paruku sudah sangat bermasalah. Namun lagi-lagi tes dahak untuk mendeteksi bakteri yang menyebabkan TB itu menyatakan negatif. Kata dokter, ini kasus yang langka, rontgen nya positif, namun sputum/dahaknya negatif.

Walhasil karena mendengar keluhanku yang sering merasakan sakit di dada, saat menguap, tarik napas panjang, bahkan sendawa terasa sakit, tak bisa tengkurap dan tidur miring ke kiri, selalu merasa kedinginan bahkan disaat cuaca panas, dokter menyarankanku untuk melakukan pengobatan TB. Pengobatan yang harus dijalani selama 6 bulan tanpa putus sehari pun. Jika putus sehari saja, maka pengobatan harus dimulai dari awal.

Dokter memberiku pilihan, berobat di Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM) atau di puskesmas terdekat. Karena berobatnya harus di 1 tempat dari awal sampai akhir untuk kepentingan laporan ke BKPM pusat. Menimbang jarak dan ongkos yang harus ditempuh, aku memilih berobat di puskesmas terdekat.

Obat yang harus diminum sungguh luar biasa. Berupa kaplet besar berwarna merah yang komposisinya berasal dari 4 obat yang tergolong keras. Disebut obat keras karena memiliki efek samping yang berat dan banyak tergantung daya tahan tubuh orang yang meminumnya. Untungnya sampai sekarang efek yang paling luar biasa belum aku rasakan. Obat yang istimewa itu harus kuminum sekaligus 2 tiap harinya di pagi hari.

Mungkin pengobatan ini seharusnya dilakukan sejak 2 tahun yang lalu, sejak pertama kali merasakan ketidakberesan dalam tubuhku. Namun karena 2 tahun yang lalu puskesmas ternilai kurang follow up menyarankan pengobatan (entah kenapa, sekarang pun aku masihi tak pernah puas terhadap pelayanan di puskesmas) dan aku pun belum merasakan kesakitan dan ketidakberesan yang baru kurasakan 2 bulanan ini, jadi pengobatan baru terlaksana sekarang, hampir berbarengan dengan 6 bulan percobaan kerjaku di tempat yang ku idamkan selama ini.

Sekarang tak ada yang bisa kulakukan selain bersabar dan tetap merapel wudhu, memakai masker, kaos kaki, dobel baju dan jaket selama 6 bulan di 6 bulan percobaan kerjaku ini.

Doakan ya semoga aku bisa menjalani ini, dan ingatkan aku agar aku tak lupa minum obat. ;-) (nyarios ka saha ieu teh…) :-/

Monday, March 30, 2015



Semalam aku bermimpi, bertemu dengan dirinya.
Ingin rasa tuk mengulang hangatnya cinta tadi malam.

Sebagian lirik lagu Kahitna - Tentang Diriku tiba-tiba terngiang di Minggu Pagi Pahing 29 Maret 2015/8 Jumadil Akhir 1436, komplit banget ya, kebetulan lagi duduk di samping kalender.

Kenapa??

Karena semalam dia hadir dalam mimipiku.

Siapa dia??

Sebut saja dia Hidemi.

&&

Pada malam sebelumnya, yang kebetulan malam minggu, saya hampir sama sekali tak memikirkan atau membayangkan Hidemi. Karna malam itu saya terlalu sibuk kepikiran dengan Dewi Padi. Sampai-sampai saya minta tolong sahabat saya, Yunma, untuk melihat pm (personal message dalam BBM) Dewi Padi. Tapi pas Yunma mengirimkan screeenshoot pm Dewi Padi, saya langsung jleb, selang beberapa detik kemudian saya tersadar, saya tak perlu dan tak boleh kepikiran sama dia lagi. She has been happy.

Jadi malam itu saya habiskan dengan menghapus segala yang berhubungan dan mengingatkan saya dengannya, sambil menyetel OST You Are The Apple of My Eye: Those Bygone Years by Hu Xia. Karena inti cerita film tersebut dan liriknya hampir mirip ama kisahku dengan Sang Dewi Padi. Walaupun ga sama banget tapi disama-samain aja deh, toh intinya mah sama.

Aplikasi pemutar musik di hape hanya memainkan lagu tersebut. Hanya mengulang lagu tersebut berkali-kali sampai saya tertidur. Dan saya tak pernah menyangka dalam tidur itu Hidemi hadir dalam mimpiku.

Dalam mimpi itu, entah bagaimana ceritanya tiba-tiba saya dan Hidemi ada di sekolahan (ga tau deh sekolah mana). Kita berdua mengelilingi sekolah tersebut, melihat mading di tiap kelas dan papan pengumuman. I have no idea what we were searching for. Suddenly, saya terbangun oleh suddenly. Ya, Suddenly lagu korea yang dinyanyikan Kim Bo Kyung yang kupasang sebagai nada alarm membangunkanku.

Ingin tidur lagi melanjutkan mimpi itu, tapi apa daya. Mimpi itu bukan film Fast Furious yang bisa dilanjutkan sampe 6 sequel. Saya pun hanya bisa bernyanyi dalam hati. Bernyanyi 2 baris awal lagu Kahitna yang saya kutip di awal dan akhir tulisan ini.

Semalam aku bermimpi bertemu dengan dirinya.
Ingin rasa tuk mengulang hangatnya cinta tadi malam.

Thursday, March 26, 2015


Ketika kamu ingin bersegera untuk menikah tapi kamu belum mampu, entah materi atau mental atau lainnya.
Kemudian kamu bertemu dengan orang yang memiliki kriteria sebagai istri idamanmu, yang membuatmu tiap harinya merindukannya dan merindukan 2 kalimat, ijab dan qobul.

Namun walaupun kau merindukannya tiap hari, kau tak mau atau mungkin tak sanggup mengungkapkannya, bahkan tak bisa hanya sekedar sms menanyakan kabar karena kamu menghargainya.

Dan kamu juga masih belum yakin, apakah ini cinta, rindu, atau nafsu. Tapi tiap kali kamu menahan untuk tidak -bahkan sekadar- sms, kamu mengatasnamakan cinta karena berharap dia your future wife.

Dan you have no idea sampai kapan kamu akan merasa tersiksa dengan perasaan itu.

Dan kau tak punya jaminan apapun apakah dia akan mau menerimamu setelah kau menunggunya? Apakah dia akan tetap di hatimu ataukah akan ada orang lain lagi yang mengisi hatimu?
Kamu tetap tak bisa menjawabnya walaupun kau pikirkan tiap malam, sampai kapan it would be happened?

Itu semua berarti, God give time for you. Allah memberimu waktu. Manfaatkanlah..

Sunday, December 28, 2014

Entah sudah lewat berapa lebaran saya ga posting di blog ini. Ketidakmampuan untuk move on dan kesibukan kerja yang cukup menguras akal sehat membuatku kehilangan sense of writing. So, daripada nganggur terus, mending saya isi aja sama tulisan lama saya ini. Pertama kalinya membuat sebuah tulisan/artikel/coret2an ga jelas. 2 tahun yang lalu, saya diminta bos untuk membuat artikel untuk dimuat di Jurnal Tahunan. Saya pun mengirim tulisan ini ke email beliau, dan Alhamdulillah tulisan saya ga dimuat di Jurnal tersebut. Ternyata coretan ini masih belum layak dimuat, dan akhirnya tak pernah terbit.

2 tahun berlalu, file asli tulisan ini sudah lenyap ditelan zaman. Untungnya masih tersimpan di kotak keluar email yahoo saya. So, this is it.....



Pelajaran Dari Bersepeda

Sejak hampir setahun yang lalu, saya dikenal oleh banyak peserta 6 Minggu Bisa! (6MB!) di Cirebon sebagai “Penghuni SBS”. ‘Gelar’ itu saya peroleh pertama kali saat saya masih mengikuti program 6MB!, karena saya selalu stay di kantor. ‘Gelar’ itupun masih tersemat hingga sekarang di Cirebon sudah meluluskan 9 angkatan 6MB!.

Keyakinan mengalahkan logika
Seperti biasa, “penghuni SBS” ini tiap 1 atau 2 bulan sekali pulang menggunakan sepeda, karena saya benci kalau harus naik angkutan umum. Mungkin bagi sebagian orang, bersepeda selama hampir 2 jam itu sangat melelahkan. Apalagi orang Cirebon sudah menganggap Sindanglaut (daerahku) dengan Cirebon Kota lumayan jauh. Banyak teman yang bertanya kepada saya, “Emang kuat??”, “Nggak cape??”. “Coba saja sendiri kalau mau tahu”, jawabku  sambil tersenyum (lebih tepatnya nyengir).
Saat pertama kali melakukannya, memang sungguh berat. Apalagi ketika harus menanjak di jalan layang, saya tidak mampu mengayuh sepeda sampai ke atas Tapi di perjalanan berikutnya, saat saya memainkan pikiran dan menguatkan keyakinan, perjalanan jadi terasa enteng. Di tanjakan pun saya sanggup mengayuh sepeda sampai atas, karena saya berpikir dan berkeyakinan saya sedang di turunan walaupun kenyataannya sedang di tanjakan. Oh ya, satu lagi. Saya juga harus tetap fokus dan berkonsentrasi dalam permainan pikiran ini. Jika saya lengah sedikit saja, kekuatan mengayuh sepeda sampai ke atas akan hilang.
Intinya, kekuatan pikiran kita sangat hebat. Tapi kekuatan itu hanya akan muncul jika kita mampu fokus mengontrol pikiran kita dan yakin pada apa yang kita pikirkan. Jadi, Yakinlah pada kemampuan (otak) kita, maka kita akan menemukan ‘keajaiban’ yang secara logika tidak masuk akal bagi kebanyakan orang.

Keep Moving On
Di dunia ini segala sesuatu serba sepasang. Seperti halnya di jalan layang yang saya lewati. Setelah ada tanjakan, ada juga turunan. Pada saat turunan, filosofinya kita mendapatkan kemudahan setelah kesulitan. Seperti firman Allah dalam Surat Al-Insyiroh ayat 5 yang artinya, “Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu pasti ada kemudahan”.
Setelah menanjak dengan harus mengayuh, ketika di turunan saya hanya harus mengendalikan stir saja tanpa harus mengayuh. Tapi setelah itu, saya harus mengayuh kembali jika tidak ingin sepeda berhenti di jalan. Sama halnya dengan kehidupan ini. Kita harus berusaha dan bersusah payah terlebih dahulu. Setelah itu, kita pasti akan mendapatkan kemudahan dan kenikmatan.
Namun, berhati-hatilah saat mendapatkan kemudahan tersebut. Jangan sampai terlena dengan kenikmatan yang telah kita peroleh. Kita harus berusaha lagi jika kita tidak mau kenikmatan dan kemudahan itu habih seiring berjalannya waktu. Seperti saat di turunan saya harus mengayuh sepeda lagi jika tidak ingin sepedanya berhenti di tengah jalan. Karena seperti halnya kesullitan, kemudahan pun ada batasnya. So, Keep Moving On..!!
Dari perjalanan kecil tersebut saya mendapatkan banyak pelajaran. Pelajaran yang jarang diajarkan di sekolah. Namun ternyata pelajaran itu banyak saya dapat di SBS, terutama dari Mr. Yun. Namun saya jarang menyadarinya (maaf ya bang..).
Salah satu contoh kasus, mengapa bang Yun berani menaikkan harga di cabang-cabang premium. Mungkin karena selain melihat ada peluang besar kedepannya, bang Yun juga memiliki keyakinan yang sangat kuat dan konsentrasi yang penuh pada SBS. Alasan lain juga mungkin karena bang Yun melihat tim-tim daerah (termasuk saya sendiri) terlena dengan keadaan SBS yang berjalan datar. Maka dari itu bang Yun menaikkan harga agar para tim daerah semakin giat berusaha dan tidak terlena dengan kemudahan yang ada.
Itu semua hanyalah opini dari saya yang 125% diragukan kebenarannya. Alasan aslinya bisa Anda dapatkan di “bang Yun” terdekat. Yang pasti,mari kita kuatkan keyakinan, positifkan pikiran, tidak terlena dengan segala kenikmatan, dan tetap berusaha untuk mencapai tujuan/cita-cita kita.

8 April 2012
Note:
Jika Anda tidak mendapatkan manfaat dari artikel ini, jangan telepon/sms ke nomor ini: 087829731959. Jika Anda tak peduli siapakah sebenarnya penulis artikel ini, jangan telepon/sms ke 085797142559. Jika Anda tidak ingin melihat wujud “Penghuni SBS” ini, jangan add Dean Cooper (Muhammad Najmuddin).
Terima kasih.. ^_^

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!