Search And Rescue UNder Ground

Posted by Muhammad Najmuddin Saturday, February 8, 2014 0 masukan

Sarung. Semua orang pasti mengenalnya. Walaupun saya yakin tak ada yang pernah berkenalan dengan sarungnya. Saya bukan ingin membahas sejarah sarung, atau bahkan cara pembuatannya. Saya juga tidak akan membahas all about sarung dari segi adat apalagi agama. Saya hanya ingin mengutarakan segala uneg-uneg saya tentang sarung.

Sejak kecil, saya memang sedikit bermasalah dengan sarung. Saya selalu kesulitan ketika mengenakan kain tersebut. Setiap memakainya, pasti selalu longgar dan kedodoran.

Saya puntak patah arang. Saya selalu memperhatikan orang-orang disekitar saat memakai sarungnya. Ternyata setiap orang memiliki gaya tersendiri dalam memakai kain yang biasa dipakai untuk sholat tersebut. Ada yang menggunakannya dengan gaya simetris (membelah sarung menjadi 2 bagian menggunakan tangan), gaya menyamping (merentangkan sarung ke satu sisi), mungkin ada pula yang menggunakan gaya kodok atau salto (silakan pikir sendiri bagaimana caranya).

Saya juga kadang bingung. Ketika saya berhasil mengenakan sarung dengan sempurna (kedodoran dikit sih), datang seorang kawan menegur, “Sarungnya kebalik tuh!” Saya pun melirik pada sarung yang melekat di kaki saya. Lihat kanan kiri, depan belakang.Tak ada masalah, saya pikir. Saya mengenakan bagian luar diluar dan bagian dalam didalam. Saya hanya bisa garuk kaki kebingungan.

“Cap sarungmu ga ada, harusnya capnya diposisikan di bagian bawah belakang.”

“Oh gitu ya”, masih sedikit bingung. Kenapa cap sarung harus diposisikan di belakang bagian bawah. Tapi saya tak menanyakan itu pada kawan. Malas.

Sampai sekarang saya menginjak usia kepala 2, saya masih melihat kebanyakan orang memposisikan cap atau merek sebuah sarung di bagian bawah belakang sarung.Pertanyaan itu pun masih ada. Kenapa sih harus di belakang bawah? Mungkin ada yang menjawab, untuk menandakan bagian depan belakang dan atas bawah sarung. Tapi bisa kan kalau cap nya diposisikan di bagian atas sehingga tertutupi oleh gulungan? Apa untuk pamer merek mahal? Mungkin iya kalau iya sarungnya mahal.Tapi yang pakai sarung harga ekonomis, untuk apa? Apa mereka jadi Brand Ambassador sarung tersebut? Atau bintang iklannya mungkin? Atau mereka dibayar per jam nya oleh perusahaan sarung tersebut? Entahlah. Saya pun sebenarnya tak terlalu peduli. Tapi setiap melihat merek sarung di belakang bawah sarung seseorang, pertanyaan-pertanyaan tersebut pasti selalu muncul dipikiranku. 

Dibandingkan dengan permasalahan negara yang bertumpuk, ormas-ormas dan parpol-parpol yang saling mengutuk, dan masalah percintaan yang bikin ngantuk, mungkin masalah tentang sarung ini sungguh sangat amat teramat tidak penting. Dan memang begitulah adanya, ga penting banget. Yang penting saya bisa mengeluarkan uneg-uneg yang udah berkarat di otak saya.

Mungkin 1 dari 100 orang yang membaca judul di atas akan sedikit terkejut karena sedikit tertipu, walau mungkin yang baca ga akan sampai 100. Karena merasa judul dan isi tidak sesuai. Namun orang yang cerdik pasti paham hanya dengan melihat yang besarnya saja.

That’s all. Wear your sarong as you like.That’s your freedom to express your creativity.
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link ke https://muhammadnajmuddin.blogspot.com/2014/02/sarung.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

HAVE A NICE DAY!


^_^

0 masukan:

Post a Comment

Copyright of My F***** Story.