Tentang Rasa

Posted by Muhammad Najmuddin Sunday, February 2, 2014 0 masukan
Astrid – Tentang Rasa, melalui headphone, lagu itu berulang kali mengalun di satu telingaku, karna speaker headphone sebelahnya rusak. Lagu itu memang tidaklah asing. Walau sudah lebih dari 2 tahun aku tak mendengarnya.

Lagu itu pertama kali kudengar bukan dari penyanyi aslinya, namun suaranya tak kalah hebat dengan Astrid. Lagu itu penuh kenangan bersamanya, karena saat itulah aku pertama kalinya intens berkomunikasi dengan seorang wanita, walau hanya via telepon.

Bermula dari rasa frustasi setelah lulus SMA. Tak melanjutkan kuliah, tiap hari dag dig dug menunggu panggilan kerja yang tak kunjung ada. Saat-saat itulah aku mulai berpikir untuk mencari hiburan. Karena selama berseragam sekolah, aku belum pernah memiliki hubungan yang dekat dengan seorang wanita, di tengah kegalauan itu, aku mencoba mencari ‘hiburan’ tersebut.

Mulai dari ikutan acara tukar nomor di radio sampai utak atik nomor ponsel. Kebetulan saat itu aku menggunakan ponsel cdma ehsia. Dengan menggunakan kode area cirebon dan utak atik angka di belakang kode areanya, akhirnya aku pun berkenalan dengannya.

Dia memperkenalkan diri dengan nama ‘uum’, aku tak yakin itu nama aslinya dan sampai sekarang aku pun belum tahu nama aslinya. Dia baru mau masuk SMA saat kita berkenalan.

Karena saat itu ehsia sedang promo nelpon gratis ke sesama operator, praktis kita jadi sering bertelepon. Mulai dari bangun tidur hingga malam menjelang tidur. Berjam-jam kita habiskan waktu di telepon tanpa takut kehabisan pulsa.

Suatu malam di tengah keheningan saat bertelepon (karena aku tak pandai bersilat lidah jadi sering nelpon juga banyak diamnya), dia pun menyanyikan lagu yang belum pernah kudengar sebelumnya. Dan aku tahu pasti dia menyanyikan lagu itu bukan karena suka denganku, melainkan dengan orang lain.
Pada saat itu kita belum pernah bertemu. Hanya berhubungan lewat telepon. Aku berlangganan menjadi tempat curhat baginya. Sampai baterai ponselku menjadi korban karena terlalu sering dipakai saat sedang diisi baterainya.

Sampai tiba saatnya kita memiliki kesempatan untuk bertemu. Dan seperti yang sudah kuduga sebelumnya, dia turun dari angkutan umum, lalu melihatku, kemudian pamit dan naik angkutan umum lagi. Sudah..
Setelah pertemuan itu, kita mulai jarang bertelepon ataupun sekadar sms. Pernah bertemu sekali lagi hanya untuk membantunya membantu mengerjakan tugas makalahnya. Hanya memberikan makalahnya, lalu sudah. 
Dan secara alami lama-lama kita lost contact. Dengan begitu, maka berakhirlah hubungan yang tak bisa didefinisikan tersebut. Hubungan yang tak ada rasa cemburu atau pun rindu, apalagi bermesraan seperti dia bersama mantan pacarnya yang jumlahnya belasan.

Sampai sekarang, jika aku mendengar lagu itu, aku pasti teringat padanya dan saat-saat kita sering bertelepon. Dan memang tak ada rindu. Dia hanya menjadi cerita masa lalu. Saat aku sedang kehilangan haluan. Seperti sekarang.

Aku tersesat menuju hatimu
Beri aku jalan yang indah
Izinkanku lepas penatku
Tuk sejenak lelap dibahumu

Dapatkah selamanya kita bersama
Menyatukan perasaan kau dan aku
Semoga cinta kita kekal abadi
Sesampainya akhir nanti, selamanya

Tentang cinta yang datang perlahan
Membuatku takut kehilangan
Kutitipkan cahaya terang

Tak padam didera goda dan masa

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link ke https://muhammadnajmuddin.blogspot.com/2014/02/astrid-tentang-rasa-melalui-headphone.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

HAVE A NICE DAY!


^_^

0 masukan:

Post a Comment

Copyright of My F***** Story.