My Teenager Age ( Masa 'Remaja'ku)

Posted by Muhammad Najmuddin Tuesday, March 4, 2014 0 masukan

Masa remaja, terutama saat SMP dan SMA, adalah masa-masa  peralihan untuk menjadi dewasa. Itu kata orang. Walaupun saya juga orang, tapi sumpah, bukan saya yang bilang.

Pada masa itu, kebanyakan dari kita mulai menyukai lawan jenis. Saya sebut kebanyakan dari kita, karena ada juga sedikit yang menyukai sesama jenis mungkin. Atau ada yang sudah mulai menyukai lawan jenis sejak SD atau usia balita. Itu mungkin ada. Atau bahkan sekarang di zaman modern,  mungkin anak masih menyusui juga sudah menyukai lawan jenis dan sudah bisa goyang oplosan. Wah kebanyakan kata ‘mungkin’ nya nih. Maklum lah, opini tak berdasar, gak ilmiah tapi alamiah.

Kalau saya, tiap tingkat jenjang pendidikan, ada saja orang yang saya suka. Saya sudah mulai menyukai lain jenis sejak SD. Walau ada teman kecil yang tinggal di sebelah kontrakan dan teman di TK yang seingat saya punya cerita spesial, tapi secara sadar, saya mulai menyukai lain jenis saat SD, tepatnya kelas 5 di SD yang baru. Awalnya saya bersekolah di Bogor, tapi karena beberapa alasan, keluarga saya pun pindah ke kampung halaman, Cirebon. Dan saya pun akhirnya memiliki sekolah baru, teman baru, dan semangat baru.

Di sekolah baru tersebutlah saya bertemu dengannya. Teman sekelasku yang katanya selalu juara kelas tapi setelah kedatangan saya, sang murid baru, dia harus puas menjadi runner up karena posisi puncaknya direbut oleh saya. Saya kadang berpikir, apakah itu cinta pertama saya? Entahlah. Saya tak mengerti, tak paham tentang hal seperti itu. Yang saya tahu, saya tertarik padanya.

Saat di SMP, terutama kelas 3, lumayan banyak orang yang saya suka, tapi semuanya hanya sekadar suka menatap dari kejauhan.

Ketika SMA, ada 1 orang yang saya suka sejak kelas 1 atau kelas 10. Saya dan dia selalu bergantian menjadi juara kelas. Seperti kepada orang-orang yang saya suka sebelumnya, saya tak pernah menyatakan perasaan tersebut ke orang yang bersangkutan. Saya hanya memendamnya sendiri, bahkan teman terdekat pun tak mengetahui. Baru kali ini lah, melalui tulisan ini semuanya sedikit terungkap.

Perasaan suka tersebut memuncak saat memasuki kelas 12. Di sela pikiran yang mumet akan kemana setelah lulus SMA, saya selalu ingin bisa melihatnya. Saat sedang dalam kelas, saat istirahat. Saya selalu ingin bisa melihatnya datang saat pagi dan masuk kelas. Terasa berat saat jam sekolah harus berakhir, karena tandanya saya harus bersabar sampai esok hari untuk bisa melihatnya.

Ada momen saat kelas 11, ketika pelatihan anggota OSIS baru, semua anggota harus menginap di sekolah. Disela waktu istirahat, saya dapat kesempatan mengobrol, atau lebih tepatnya mendengarkan ceritanya, karena saat itu suara saya sedang hilang. Itulah pertama kalinya dia ‘curhat’ padaku. Momen terindahku bersamanya.

Momen yang akan selalu saya ingat juga adalah ketika saya dan dia menjadi wakil dari sekolah kita untuk hadir pada acara buka bersama yang diadakan sebuah lembaga zakat. Sebelum pergi ke lokasi, kami solat berjamaah di masjid kota (belakangan saya baru tahu bahwa tempat solat laki-laki dan perempuan itu terpisah). Momen yang tak terlupakan, sholat berjamaah dengannya.

Seperti sekolah lainnya pada umumnya, untuk anak kelas 12 ada pelajaran tambahan diluar jam sekolah. Saya tak pernah fokus pada pelajaran tambahan tersebut. Disamping karena hanya mengulang pelajaran yang sudah-sudah dan membahas soal, saya terlalu sibuk mencuri pandang padanya.

Sampai sekarang saya masih tak mengerti, apakah ini cinta atau apalah namanya. Karena saya tak pernah merindukannya dan tak pernah mengharapkan lebih darinya. Tapi inilah cerita saya. Cerita masa remaja saya yang jauh dari kata pacaran namun banyak memendam rasa yang belum bisa dikatakan cinta.

Saya tergolong siswa kuper. Saat teman-teman asyik jajan di kantin, di jam istirahat, saya lebih suka tinggal di kelas mengerjakan apapun yang bisa dikerjakan, atau bertapa di perpus, membaca bebarapa buku roman dan puisi. Tentang ini sudah saya ceritakan di cerita sebelumnya.

Sedang menyukai seseorang dan rajin baca buku puisi. Dua hal ini lah yang mengantarkanku untuk berpikir membuat puisi. Pengalaman membuat puisi dengan mengurai nama diri saat SMP menjadi modal lebihku untuk merangkai kata beberapa bait. Beberapa puisi disini adalah hasilnya. Bahkan beberapa diantaranya sudah saya buat menjadi sebuah lagu.

Rasa suka pada lawan jenis itu lumrah. Sampai bisa membuat puisi juga lumrah untuk mengekspresikan perasaan yang terpendam. Tapi semua itu belum bisa dikatakan cinta jika tanpa pengorbanan.

Jadi, sebenarnya apa yang ingin saya sampaikan dari cerita yang begitu rumit dan sulit dimengerti ini? Entahlah. Itulah curahan otak saya. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membacanya. Semoga bermanfaat walau tak ada manfaatnya. Dan semoga menginspirasi Anda walau tak ada yang bisa dijadikan sebuah inspirasi. J

&&&
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link ke https://muhammadnajmuddin.blogspot.com/2014/03/my-teenager-age-masa-remajaku.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

HAVE A NICE DAY!


^_^

0 masukan:

Post a Comment

Copyright of My F***** Story.