Kisahku dengan Sang Dewi Padi (Part II: Leave n Back, Give n Take)

Posted by Muhammad Najmuddin Sunday, August 24, 2014 0 masukan

Leave n Back

Tomorrow's Way dan Please Stay With Me, 2 lagu yang dia perkenalkan padaku. 2 lagu itu juga yang setiap kuputar, air mata menetes teringat bayangnya, Sang Dewi Padi.

Di Bogor, karena sering bertelponan, rasa itu mulai tumbuh. Tapi rasa itu belum sekuat sekarang. Setelah beberapa bulan di Bogor, dengan banyak menghitung dan berspekulasi, akhirnya bos ku memindahkanku lagi. Kali ini makin jauh, beda pulau, Sumatera.

Disana hubunganku dengannya kian lama kian renggang hingga akhirnya lepas. Seperti dengan teman SMP yang saat masuk SMA yang berbeda masih sering berkomunikasi, dan setelah masuk perguruan tinggi dengan kesibukan dan orang-orang yang baru, akhirnya dengan teman SMP itu lepas, lost contact.

Apalagi disana aku terjebak dengan cinta lokasi dengan Putri Silampari. Wanita yang 7 tahun lebih tua dariku menyatakan perasaannya padaku. Aku yang memang juga memendam rasa suka padanya sempat menolaknya. Namun karena dia keukeuh, akhirnya aku luluh. Lupa dengannya. Lupa dengan Sang Dewi Padi yang setia menunggu di kota Udang.

Hanya selang beberapa kemudian, aku dicampakkan oleh Putri Silampari. Mungkin dia baru sadar. Dia lebih memilih dengan lelaki yang sederajat dengannya. Aku yang sudah meninggalkan pekerjaan demi dia pun sudah tak punya apa-apa lagi di Negeri Andalas itu. Aku pun kembali ke kampung halaman.

Aku tak pulang dengan tangan hampa. Selain membawa laptop dan modem yang kuanggap sebagai garansi cinta si Putri Silampari, aku juga ternyata membawa penyakit. Dari hasil rontgen dokter menyimpulkan bahwa aku memiliki teman baru yang bernama Pneumonic Infiltrat bla bla bla.. (ngedadak ngliat jepretan surat keterangan hasil rontgen, tulisan dokter sulit dibaca). Saat kumat, aku akan merasa sangat dingin walau cuaca sedang panas, walau sudah memakai pakaian dan jaket lapis empat. Sering juga aku merasakan sakit yang teramat sangat di dada, kanan maupun kiri.

                                                       +08+08+
Give n Take

Ini terjadi pada saat bulan puasa tahun lalu. Sang Dewi Padi dengan sangat tulus menerimaku kembali dekat dengannya walaupun aku sudah jauh terbang meninggalkannya. Aku dan dia yang dulu hanya dekat via telpon dan sms, kali ini kita lebih sering bertemu. Sering menghabiskan waktu bersamanya membuat aku lupa dengan penyakitku. Dan perlahan penyakit itu pun melupakanku, entah pergi atau bersembunyi. Pupuk cinta dari Sang Dewi Padi mengobatiku dari hama penyakit.

Kita memandang indah dan semrawutnya kota Cirebon dari menara masjid bersama. Kita menyaksikan kemewahan pelangi di tengah kota selepas dia pulang kerja.  Aku mengajarinya mengendarai motor. Bulan puasa berakhir, kita semakin dekat, sering makan bareng, main bareng, cari kerja bareng, mandi dan tidur... masih masing-masing.


Hal yang tak pernah bisa kulupakan. Pertama kalinya kita makan kerak telor yang ternyata nggak enak untuk lidah kita, saat itu dia juga memberikanku hadiah, buku yang aku sangat ingin kumiliki, komik conan edisi khusus. Pertama kalinya aku makan di KFC dengan merogoh kocek 70ribu lebih, gaji 3 hariku di rumah makan dekat stasiun, saat itu aku memberinya gelang couple, aku mengenakan gelang hitam, dia putih, lalu 1 gelang lagi untuknya yang ternyata itu bukan gelang, melainkan kuncir rambut.

Selain komik conan, dia juga pernah memberiku gantungan kunci naruto dan gantungan kunci bergambar shinichi dan ran, tertera juga inisial dan juga panggilan sayangnya (emang iyakah panggilan sayang?? :-/ ) padaku M.N. Yang paling membuatku bahagia adalah ketika kita makan siang di warung depan kantor langgananku dulu. Dia memberiku gantungan setengah hati, dan setengahnya dia simpan juga.

Semua barang pemberian dariku dan darinya sudah kuanggap sebagai bentuk take n give ku dengannya. Walau tak begitu bernilai, tapi sangat berharga sebagai bukti kasih kita berdua.

Dengan mengecualikan ganci naruto yang hilang tanpa sepengetahuanku, semua barang pemberiannya masih kusimpan dengan baik. Jika rindu tak terbendung, aku langsung menggenggam erat separuh hati yang telah dia berikan hingga tercipta puluhan (klo ratusan terlalu lebay) tetesan air mata.

Dengan tak menghitung gelang couple warna putih yang hilang juga, apakah dia masih menyimpan, merawat atau menggenggam barang pemberianku??

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link ke https://muhammadnajmuddin.blogspot.com/2014/08/kisahku-dengan-sang-dewi-padi-part-ii.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

HAVE A NICE DAY!


^_^

0 masukan:

Post a Comment

Copyright of My F***** Story.